Donor dan Transplantasi Menurut Hukum Islam

Pengertian Donor dan Transplantasi

Donor adalah pemberian bantuan. (KBBI)

Transplantasi adalah pemindahan jaringan atau organ tubuh manusia atau tanaman ke tempat (orang) lain.(KBBI)

Donor dan transplantasi dilaksanakan sejalan. Donor organ dapat diartikan sebagai pemberian organ dari seseorang yang sehat organnya kepada orang yang membutuhkan.

Jenis- jenis Transplantasi

Dilihat dari segi hubungan genetik antara donor dan resipien, ada tiga jenis transplantasi, yaitu:
1. Auto-transplantasi, donor dan resipien merupakan satu individu, diambilkan dari bagian
badannya sendiri.
2. Homo-transplantasi, donor dan resipiennya individu yang sama jenisnya, manusia dengan
manusia, donor masih hidup atau sudah mati.
3. Hetero-transplantasi, donor dan resipiennya dua individu yang berlainan jenis, seperti
donornya dari hewan dan resipiennya manusia.

Tinjauan Hukum Donor dan Transplantasi

Dalam Islam tidak tersurat langsung bagaimana hukum donor dan transplantasi. Diperbolehkankah atau dilarang. Tapi kita dapat melihat hukumnya berdasarkan konteks dan keadan, merujuk kepada Alquran dan hadits serta penerapan Qiyas. Kita dapat menganalisa hukum donor dan transplantasi dari tujuan dan tata cara pelaksanaanya

Donor dan transplantasi dilarang atau haram jika

  1. Dengan tujuan komersil atau jual beli

Karena mengharapkan uang seseorang rela menjual organnya. Ini jelas akan membahayakan kelangsungan hidupnya kelak. Sesuai dengan firman Allah ” dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. ” (Qs Al Baqarah : 195)

Selain itu organ- organ tersebut boleh dikatakan najis, atau  tidak suci. Karena salah satu syarat jual beli dalam Islam adalah tidak boleh memperjualbelikan barang yang bersifat najis.

Tetapi jika resipien memberikan imbalan kepada pendonor diperbolehkan, sebagai tanda terima kasih, tanpa maksud jual beli.

  1. Mendonorkan organ- organ yang bersifat vital seperti otak, jantung, kimpa, hati, dan lain- lain.

Dilarang mendonorkan organ yang bersifat penting dalam kelangsungan hidup manusia. misalnya jantung, tanpa jantung manusia tidak bisa hidup, karena jantung berfungsi dalam sistem kardiovaskuler manusia yang penting dalam kelangsungan hidup manusia. Sesuai dengan firman Allah,

” dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. ” (Qs Al Baqarah : 195)

Juga dengan firman Allah swt :

” Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri , sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ( Qs An Nisa : 29 )

  1. Dilarang dengan sengaja mendonorkan organ orang yang sudah mati tanpa alasan yang jelas

Ada umur organ manusia yang tidak sama dengan umur manusianya. Maksudnya, ketika orangnya telah meninggal, organ masih berfingsi dengan bagus, seperti korban kecelakaan dan lain- lain. Walaupun manusia telah meninggal, tapi kehormatannya harus dijaga seperti manusia yang masih hidup. Rasullullah bersabda:

“Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amar bin Hazm Al Anshari RA, dia berkata,”Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada sebuah kuburan. Maka beliau lalu bersabda :

“Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu !”

Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :

“Sungguh jika seorang dari kalian duduk di atas bara api yang membakarnya, niscaya itu lebih baik baginya daripada dia duduk di atas kuburan !”

Hadits-hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa mayat mempunyai kehormatan sebagaimana orang hidup. Begitu pula melanggar kehormatan dan menganiaya mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan dan menganiaya orang hidup. Dari hadist diatas dapat kita ambil kesimpulan, menduduki kuburan tidak boleh, tentu saja mengambil bagian tubuh orang yang sudah meninggal tidak boleh.

Donor dan transplantasi dibolehkan hanya pada keadaan darurat atau mendesak. Ini dapat dianalogikan dari firman Allah

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam kea­daaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa atas­nya.” (QS. Al Baqarah : 173)

Dan sesuai dengan firman Allah,

Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” (Al-Maidah: 32.)

Jika seseorang mendonorkan organnya kepada orang lain dalam keadaan darurat dengan mengharap ridha Allah, berarti ia berniat untuk membantu saudaranya. Ia mencoba menolong saudaranya yang membutuhkan tanpa membahayakan dirinya sendiri, karena Rasullullah melarang tidak boleh membahayakan diri sendiri sesuai dengan sabda Rasullullah:

Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membayakan diri orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Beberapa fatwa ulama dan konsensus mufakat para ulama dari berbagai muktamar, lembaga, organisasi dan intitusi internasional yang membolehkan praktej tranplantasi

Telah banyak fatwa dan konsensus mufakat para ulama dari berbagai muktamar, lembaga, organisasi dan institusi internasional yang membolehkan praktek transplantasi ini diantaranya adalah
1. Konperensi OKI ( di Malaysia, April 1969 M ). dengan ketentuan kondisinya darurat dan tidak  boleh diperjualbelikan.

2. Lembaga Fikih Islam dari Liga Dunia Islam ( dalam keputusan mudzakarohnya di Mekkah, Januari 1985 M.)

3. Majlis Ulama Arab Saudi ( dalam keputusannya no. 99 tgl. 6/11/1402 H.)

4. Panitia Tetap Fawa Ulama dari negara-negara Islam diantaranya seperti : * Kerajaan Yordania dengan ketentuan ( syarat-syarat ) sbb. :
-Harus dengan persetujuan orang tua mayit / walinya atau wasiat mayit.
-Hanya bila dirasa benar-benar memerlukan dan darurat.
– Bila tidak darurat dan keperluannya tidak urgen atau mendesak, maka harus memberikan imbalan pantas kepada ahli waris donatur ( tanpa transaksi dan kontrak jual-beli ).

5. Negara Kuwait ( oleh Dirjen Fatwa Dept. Wakaf dan Urusan Islam keputusan no.97 tahun 1405 H. ) dengan ketentuan seperti di atas. * Rep. Mesir. ( dengan keputusan Panitia Tetap fatwa Al-Azhar no. 491 ) *

6. Rep. Al-Jazair ( Keputusan Panitia Tetap Fatwa Lembaga Tinggi Islam Aljazair, 20/4/1972)

 

Referensi:

http://pabondowoso.com/berita-154-pandangan-hukum-islam–terhadap-transplantasi-organ-tubuh-dan-tranfusi-darah.html

http://nursing-transplan.blogspot.com/2008/12/hukum-transplantasi-menurut-islam.html

http://percikaniman.org/tanya_jawab_aam.php?cID=217

http://nursing-transplan.blogspot.com/

http://buyung30.wordpress.com/2009/02/27/sejarah-transplantasi-dan-hukum-donor-jaringan-tubuh-menurut-islam/

http://www.medicalzone.org/2010/index.php?option=com_content&view=article&id=424:islam-memandang-transplantasi-organ-dan-jaringan&catid=12:kedokteran-islam

Iklan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!